Salah satu pekerjaan dosen atau yang disebut dengan beban kerja dosen adalah menguji karya ilmiah mahasiswa. Salah satu karya ilmiah itu yakni tesis. Pada tanggal 22 Juli 2013 saya bersama beberapa rekan dosen dan perwakilan pemerintah melalui Tim Penjaminan Mutu Dirjen Bima Kristen Kementerian Agama R.I. menguji 6 mahasiswa yang mengikuti ujian tesis. Pekerjaan ini termasuk dalam bidang profesionalisme dosen. Oleh karena menguji mahasiswa dalam ujian tesis adalah pekerjaan profesional maka mesti mendapat kompensasi dalam bentuk honor yang memadai. Biasanya Ketua Penguji diberi honor Rp 1.000,000,00 dan anggota diberi honor Rp 750.000,00. Akan tetapi berbagai kendala yang ditemui maka diputuskan dalam rapat bahwa honor ketua penguji (yang ditetapkan sekolah dalam hal ini direktur bertindak sebagai ketua penguji) dan anggota penguji dari sekolah disesuaikan dengan kondisi program pascasarjana. Disini terjadi sebuah pergumulan yang saya sebut "profesionalisme" dan "inkarnasi kebersamaan ekonomi " (situasional). Dari segi profesionalisme maka sewajarnya ketua penguji menerima Rp 6.000.000,00 tetapi dari segi "inkarnasi kebersamaan" maka ada kerelaan untuk bersedia tidak mencapai standar yang ditentukan (pengalaman ujian tesis I). Demikian juga rekan-rekan dosen penguji 2 yang bersedia berada pada "inkarnasi kebersamaan ekonomi". Saya teringat apa yang diajarkan rasul Paulus tentang "Hak dan Kewajiban". Satu sisi Paulus memiliki hak menikmati kelayakan ekonomi dari pemberitaan akan tetapi karena alasan soteriologis (berita kesukaan) maka Paulus berkenaan untuk tidak mengutamakan hak tetapi ia mengedepankan kewajiban. Namun saya tidak bermaksud memakai ayat PB untuk mengebiri profesionalisme dosen, kita berharap "Kanaan Kedepan" dalam program Pascasarjana yang kita cintai memberi madu yang memuaskan. Hal ini tidak berarti bahwa madu kali ini tidak membahagiakan, paling tidak menjawab doa anakku yang bungsu namanya "Medius Holy Historiman Muanley", doanya demikian: Tuhan berkati bapa dan mamaku supaya mereka mendapat uang yang banyak, lalu kami bisa pergi ke taman mini, ancol dan kami bisa membeli apa saja". Waktu itu saya terharu mendengar doa anakku, karena sadar bahwa pekerjaan yang saya tekuni tidak seperti pekerjaan lainnya. Tetangga saya pekerjaannya kepala/pengawas di suatu gudang, ia dihargai dengan bulanan Rp 4.000.000,00, anggota jemaat yang baru selesai dari studi diploma dengan prestasi yang baik mendapat kerja dan dihargai dengan Rp 5.000.000,00 perbulan. Saya yang bergelar doktor teologi di bidang Pendidikan Agama Kristen tidak mendapat penghargaan seperti itu. Saya sadar bahwa pekerjaan pendidik, apalagi pendidik keagamaan harus bersedia mengalami seperti itu.
Kembali ke ujian tesis, setelah selesai ujian tesis, saya pun diberi honor yang jumlahnya saya tidak sebutkan, hal ini bukan karena sedikit atau banyak tetapi yang saya ingin kedepankan ialah profesionalisme dan situasi khusus. Setelah tiba di rumah, saya bersama keluarga, sambil saya memangku anakku yang bungsu dan saya meminta kesediaannya untuk berdoa syukur kepada Tuhan untuk rejeki yang diterima. Anak saya berdoa dan ia menyatakan Tuhan Yesus trimakasih karena Bapa sudah mendapat uang, tolong supaya kami pakai untuk membeli apa saja. Ya namanya doa anak-anak, ia muncul dalam kepolosan.
Pada waktu hendak pulang ada sebuah kejadian yang sedikit mengecewakan saya, dan itu sangat melelahkan saya. Saya harus dengan ojek PP dari kampus saya ke cililitan dan kembali lagi dari cililitan ke kampus. Saya belajar kesabaran sebagai buah dari kasih. Puji Tuhan, esoknya Jam 10 lewat saya ditelepon seseorang, kebetulan saya berjuang memperbaiki ekonomi keluarga melalui kerja sebagai "Blogger" dengan memanfaatkan media online yaitu Blogspot. Saya mendapat sebuah kerja dan dihargai dengan Rp 2.000.000,00 dan langsung ditransfer ke rekening saya. Saya harus mengerjakan itu dengan kemampuan yang saya miliki. Saya memberdayakan sebuah kemampuan dalam diri saya yang pada akhirnya harus dihargai secara profesional. Rejeki itu mengobati kekecewaanku. Tuhan itu baik.
Saya memang Direktur, tetapi bekerja merangkap sekretaris, dan juga tukang foto kopi kalau ada yang harus foto kopi. Kadang berat membawa hasil foto kopi itu, membawa dari rumah ke kantor dan dari kantor kembali ke rumah. Dengan ojek dan kadang berjalan kaki. Saya lewati semuanya dengan beriman kepada Yesus Kristus.
Ada teman yang bercerita kepada saya, karena menguji tesis di berbagai tempat ia dapat membeli mobil, ya saya katakan: saya ingin memberdayakan kemampuan saya, dan Tuhan menolong saya untuk menyediakan alat yang dapat memindahkan saya ke kantor dan dari kantor ke rumah, juga untuk mengajar di tempat-tempat lain. Kisah ini tidak bermaksud meminta belas kasihan, tetapi saya hendak tegaskan: ingin meberdayakan kemampuan yang ada pada diriku dan itu mesti dihargai secara profesional. Mungkin bukan di pelayanan "mengajar dan gereja", kareena saya berkomitmen "pelayanan" . Tetapi bila ada peluang maka mengapa orang tidak dihargai secara profesional dalam "bekerja sebagai dosen".

0 Comments